Pengantar Bisnis dan Manajemen

PERBANAS. I'am the Best u're The best We're the best yess!!

ARTIKEL

Written By: marisa lutfia firdiana

ARTIKEL

MATERI 7 : Perencanaan Manajerial dan Penetapan Tujuan
Apakah Perencanaan Manajerial dan Penetapan Tujuan Itu ?
Tujuan dan Rencana
Goal – Sebuah negara yang diinginkan di masa depan bahwa organisasi upaya untuk mewujudkan
Rencana – Sebuah blueprint menentukan alokasi sumber daya, jadwal, dan tindakan lainnya yang diperlukan untuk mencapai tujuan
Perencanaan – menentukan tujuan organisasi dan sarana untuk mencapainya
Pernyataan Misi Tujuan Strategis / Rencana Manajemen Senior (Organisasi secara keseluruhan) Taktis Tujuan / Rencana Manajemen Menengah (Mayor divisi, fungsi) Operasional Tujuan / Rencana Lower Manajemen (Departemen, individu) pesan Internal Legitimasi, motivasi, panduan, pemikiran, standar pesan Eksternal Legitimasi bagi investor, pelanggan, pemasok, Tingkat masyarakat Tujuan Bukti / Rencana & Pentingnya mereka
Karakteristik Efektif Menetapkan Tujuan
•Spesifik dan terukur
•Spesifik dan terukur
•Menantang tapi realistis
•Ditetapkan periode waktu

 

MATERI 8 : Management inovatif di masa sulit
Mengapa inovasi penting?
Karena inovasi dalam produk,layana,sistem management,proses produksi,nilai-nilai perusahaan dan aspek lain dari organisasi merupakan factor yang mengubah perusahaan tumbuh,berubaah,dan berhasil.
Tanpa inovasi tiada satu perusahaan pun di Negara berkembang terutama china dan india telah membuat cemas banyak pereusahaan barat.dilingkungan global ini ,perusahaan harus lebih banyak,cepat berinovasi di bandinkan sebelumnya.
Dimanagement pun telah merubah penekanan mereka pada inovasi untuk mendapatkan dan mempertahankan posisi kompetitif dari bergeser terus-menerus pada biaya pengendalian terhadap investasi di masa depan.
Inovasi mencakup:
1. New produk
2. Layana
3. Teknologi mengendalikan biaya unvestasi di masa depan nilai perusahaan

Definisi management
Manager adalah fungsi ksekutif organisasi yang bertanggung jawab untuk membangun dan mengoordinasikan seluruh sistem dan bukan mengerjakan tugas-tugas tertentu.artinya dari pada mengerjakan sendirian semua pekerjaan, manager yang handal menciptakan sistem dan kondisi yang memungkonkan orang lain mengerjakan pekerjaan tersebut.
Management adalah pencapaian tujuan-tujuan organisasi secara efektif dan efisiesi melalui perencanaan,pengelolaan,kepemimpinan dan pengendalian sumber organisasi.
management atau manager ini sangat penting karena sangat berpengaruhi terhadap organisasi atau perusahaan sebab apabila managemenet atau manager tidak aktif,berfungsi maka organisasi ayau perusahaan tidak akan berjalan dan mencapai tujan.sehingga organisasi atau perusahaan memilih manager atau management samgat teliti dan professional agar mendapatkan manager atau management yang handal agar organisasi atau perusahaan bisa menacapai tujuaannya.

Empat fungsi management
1. Perencanaan yaitu mengidentifikasi berbagai tujuan untuk kinerja organisasi di masa mendatang serta memutuskan tugas dan penggunaan sumber daya yang di perlukan untuk mencapaianya.
2. Pegelolaan yaitu fungsi management yang mencakup penentuan tugas,pengelompokan tugas dan pengalokasian sumber daya di seluruh perusahaan.
3. Kepemimpinan yaitu fungsi management yang mencakup penggunaan pengaruh untuk memotifasi karyawan guna mencapai tujuan-tujuan organisasional.
4. Pengendalian yaitu fungsi management yang memonitor aktivitas karyawan,menentukan apakah organisasi sejalan dange tujuannya,dan membuat koreksi jika diperlukan

Kinerja organisasional
Organisasi menjdi bagian dari masyarakat,dan para manager bertanggung jawab untuk memastikan agar sumber daya yang ada digunakan secara bijak guna mencapai tujuan-tujuan organisasional.
Sedangkan pengertian dari organisasi adalah suatu entitas sosial yang di arahkan oleh tujuan dan di bangun secara sengaja.Efektifitas adalah sejauh mana organisasi dapat mencapai tujuan yang di tetapkan,atau berhasil mencapai apa pun yang coba dikerjakannya.efisiensi adalah penggunaan sumber daya yang minimal(bahan baku,uang dan manusia) uantuk menghasilkian jumlah kaluaran yang di inginkan.
 Semua manager harus memperhatikan biya,tetapi pemangkasan biaya secara besar-besaran untuk meningkaykan efisiensi terkadang untuk mengganggu efektifitas organisasi.
Tanggung jawab terbesar para manager adalah untuk mencapai kinerja (performance) tinggi,yakni pencapaian tujuan-tujua orgnisasional dengan menggunakan sumber daya secara efisiens dan efektif.

Keterampilan management
Meskipun setiap keterampilan yang diperlukan di tingkat yang berbeda dalam organisasi bias berbada,semua manager harus memiliki semua jenis keterampilan tersebut agar dapat bekerja secara efektif.
1. Keterampilan konseptual adalah kemapuan kognitif untuk melihat organisasi sebagai suatu sistem utuh dan hubungan bagiannya.keterampilan ini mencakup pemikiran,pemrosesan informasi,dan kemampuan perencanaan manager.

2. Keterampilan interpersonal adalah kemampuan manager untuk bekerja dengan dan melalui orang lain serta bakerja secara efektif sebagai anggota tim.keterampilan ini tercermin lewat kemapuan manager untuk berhubungan dengan orang lain,termasuk kemampuan,memotifasi,memfasilitasi,mengoordinasikan,memimpin,mengomunikasikan serta menyelesaikan konflik.
3. Keterampilan teknis adalah pemahaman dan penguasaan dalam melaksanakan tugas tertentu.keterampilan ini mencakup penguasaan metode,teknik,dan peralatan yang di gunakan dalam fungsi-fungsi tertentu seperti rekayasa,manufaktur atau keuangan.

Jenis-Jenis Management
 Perbedaan vertikal
 Penetuan utama kinerja manager adalah tingkatan hirarkis,diantara perbedaan-perbedaan setiap tingkatan hirarkis:
1. Manager puncak
 Manager yang berada ditingkat teratas hirarki organisasi dan bertanggung jawab terhadap keseluruhan organisasi.
2. Manager tingkat menengah
 Manager yang bekerja ditingkat menengah organisasi dan bertanggung jawab untuk unit-unit bisnis dan departemen-departemen utama.
3. Manager proyek
 Manager yang bertanggung jawab terhadap proyek kerja temporer yang melibatkan partisipasi orang dari beragam fungsi dan tingkatan organisasi.
4. Manager lini pertama
 Manager yang bertanggung jawab secara langsung terhadap produksi barang dan jasa.
 Perbedaan horizontal
 Perbedaan utama lain dalam tugas management berlangsung secara horizontal diseluruh organisasi.diantaranya:
1. Manager fungsional
 Manager yang bertanggung jawab bagi departemen-departemen yang mengerjakan tugas fungsional tunggal dan memiliki karyawan dengan pelatihan dan keterampilan yang sama.
2. Manager umum
 Manager yang bertanggung jawab bagi sejumlah departemen yang mengerjakan beragam fungsi.

Memulai Langkah:Menjadi Manager Baru
Banyak orang yang dipromosikan menjadi manager memiliki gambaran mengenai tanggung jawab pekerjaan,disamping tidak memperoleh cukup pelatihan untuk menangani pekerjaan baru mereka.tidak mengherankan jika dikalangan manager,supervisor lini pertama adalah yang paling banyak mengalami burnout dan attrition.
Organisasi sering mepromosikan karyawaan yang gemilang yaitu mereka yang menunjukkan keahlian individual dibidang yang menjadi tanggung jawab mereka dan memiliki keahlian dalam bekerja sama dengan orang lain baik untuk memberi peghargaan kepada karyawan tersebut maupun memasukkan bakat baru kedalam jajaran managemen.namun,malakukan perubahan dari peran contributor individual menjadi manager sering sulit dilakukan.
Dari Identitas Individual Menjadi Identitas Manager
• Spesialis,melakukan tugas tertentu

• Menyelesaikan sendiri berbagai
tugas
• Pelaku individual
• Relative mandiri dalam bekerja • Generalis,mengoordinasikan beragam tugas
• Menyelesaiakn berbagai tugas melalui orang lain
• Pembangun jaringan
• Bersikap interdependen dalam bekerja

Aktivitas Manager
Sebagian besarb manager belum siap untuk melakukan beragam aktivitas yang dilakukan secara rutin oleh manager.salah satu penemuan paling menarik mengenai aktivitas managerial adalah sesibuk apa para manager dan seberapa repot pekerjaan rata-rata.

Pertualangan multitasking
Cirri aktivitas managerial adalah keberagama,fragmentasi,dan durasi yang singkat.keterlibatan manager yang luas dan banyak tidak memberi waktu untuk merenung sesaat.waktu rata-rata yang dihabiskan untuk satu aktivitas adalah kurang satu menit.

 

Materi 9 :  Perumusan dan Pelaksanaan Strategi
PROSES MANAJEMEN STRATEGIS
Proses ini diawali dengan evaluasi yang di lakukan para manjer terhadap posisi perusahaan sekarang terkait misi, tujuan dan strateginya. Mereka kemudian memindai lingkungan internal dan eksternal perusahaan serta mengenali faktor – faktor strategis yang perlu di ubah. Berbagai peristiwa di linkungan internal maupun eksternal menandakan perlunya mengubah misi atau tujuan.
PERUMUSAN VERSUS PELAKSANAAN STRATEGI
Perumusan strategi mencakup perencanaan dan pengambilan keputusan untuk mencapai tujuan perusahaan. Perumusan strategi dapat mencakup evaluasi masalah – masalah di lingkungan internal maupun eksternal dan integrasi hasil evaluasi tersebut ke dalam tujuan dan strategi. Proses ini berkebalikan dengan pelaksanaan strategi , yaitu penggunaan sarana manajerial dan organisasional untuk mengarahkan berbagai sumber daya agar dapat tercapai tujuan strategis
ANALISIS SWOT
Perumusan strategi dimulai dengan evaluasi faktor- faktor internal dan eksternal yang akan memengaruhi daya saing perusahaan. Analisis SWOT mencakup upaya – upaya untuk mengenali kekuatan , kelemahan , peluang , dan ancaman yang menentukan kinerja perusahaan . informasi eksternal mengenai peluang dan ancaman dapat diperoleh dari banyak sumber, termasuk pelanggan , dokumen pemerintah , jurnal profesi, pemasok , kalangan perbankan , rekan di perusahaan lain, konsultan , atau pertemuan asosiasi.
KEKUATAN DAN KELEMAHAN INTERNAL
Kekuatan adalah karakteristik internal positif yang dapat dimanfaatkan oleh perusahaan untuk mencapai tujuan kinerja strategisnya, sedangkan kelemahan adalah karakteristik internal yang dapat menghambat atau membatasi kinerja perusahaan.
KEKUATAN DAN ANCAMAN EKSTERNAL
Kekuatan adalah karakteristik lingkungan eksternal yang berpotensi membantu perusahaan mencapai atau mengalami tujuan startegisnya. Ancaman adalah karakteristik lingkungan eksternal yang menghambat perusahaan mencapai tujuan strategisnya.

 

ARTIKEL MATERI 10 (Merancang Organisasi yang Adaptif)
Berorganisasi sama dengan bersosialisasi. Tidak ada satu pun manusia yang mampu hidup sendiri. Agar lebih teratur dan terarah, kelompok pergaulan tersebut membentuk sebuah organisasi. Sebelum membentuk organisasi tertentu, dibutuhkanperancangan organisasi. Perancangan adalah tahap penjajakan apakah organisasi tersebut bisa dibentuk atau tidak.
Lantas, apa saja yang menjadi modal pembentukannya dan yang mungkin akan menjadi kendala? Berikut ini uraiannya.
Hakikat Manusia Sebagai Makhluk Sosial
Di dalam setiap komunitas atau kumpulan, orang pasti membutuhkan sebuah aturan main dalam aktivitasnya. Hal ini diperlukan agar tercipta keteraturan dan keterarahan tata kehidupan bersama.
Bayangkan jika dalam sebuah komunitas perumahan misalnya, mereka hanya hidup secara individu tanpa peduli satu sama lain. Maka, sangatlah tidak mungkin mereka akan hidup normal dan layak. Ini sebuah kenyataan sebagai kodrat hidup manusia yang pada prinsipnya saling membutuhkan.
Tuhan telah menciptakan adanya siang dan malam, air dan api, wanita dan laki-laki. Belum lagi, dengan adanya komunitas tersebut, bisa dipastikan bahwa setiap anggota komunitas akan mempunyai kepentingan berbeda. Bahkan, bisa jadi akan ada tabrakan kepentingan ataupun kepentingan yang saling beririsan.
Dari sinilah, kemudian diperlukan sebuah pengelolaan yang seimbang dan saling bersinergi sehingga lahirlah sebuah aktivitas yang terorganisasi dengan baik. Alhasil, tujuan bersama bisa tercapai.
Pijakan Dasar Perancangan Organisasi
Berpijak dari adanya keinginan bersama untuk mencapai sebuah keteraturan dan keberhasilan bersama dalam sebuah komunitas ataukelompok, diperlukan sebuah organisasi. Dalam menyusun sebuah organisasi, sebaiknya pastikan dulu beberapa masalah mendasar berikut ini.
Apakah ada persamaan tujuan dan persepsi dalam sebuah kelompok.
Seberapa besar anggota mempunyai kerelaan dan keikhlasan untuk memimpin dan dipimpin.
Adakah kesepakatan untuk saling bekerja sama.
Pastikan setiap anggota taat kepada peraturan yang ada.
Setelah parameter tersebut didapatkan, segera lakukan pemetaan kebutuhan yang diperlukan dalam merancang organisasi. Gunakanmetode SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, dan Threat).
1. Strength
Pelajari dengan teliti kekuatan apa yang ada dalam kelompok tersebut. Dalam sebuah komunitas, misalnya masyarakat di perumahan, kekuatan yang ada adalah banyaknya jumlah kepalakeluarga yang ada, banyaknya anggota dari keluarga yang masih mempunyai waktu luang, kemauan yang sama untuk menjadi lebih baik dan lebih tertib.
2. Weakness
Pelajari kelemahan yang dimiliki dalam komunitas tersebut. Di dalam komplek perumahan kelemahan yang ada adalah bahwa masing-masing kepala keluarga sibuk bekerja di kantor atau perusahaan sehingga pergi pagi-pagi dan pulang sudah malam. Mereka tidak mempunyai waktu untuk siskamling, kerja bakti, antar jemput anak ke sekolah, dan lain-lain.
3. Opportunity
Pelajari kesempatan yang ada dengan melihat kekuatan dan kelemahan tersebut. Misalnya, dari kasus di sebuah perumahan, adanya kesempatan untuk menawarkan jasa antar jemput anak kesekolah, adanya kesempatan untuk memberi les privat mata pelajaran di sekolah.
Adanya kesempatan berjualan makanan, pulsa telpon, air meniral, gas, cuci baju, dan kebutuhan harian penghuni perumahan lainnya. Hal ini bisa dijadikan dasar kerja tim pencari dana bagi organisasi.
4. Threat
Langkah selanjutnya adalah mengantisipasi ancaman yang akan timbul. Misalnya, ada keluhan dari penghuni perumahan mengenai gangguan yang disebabkan oleh keberadaan organisasi yang akan didirikan atau adanya keluhan para pengguna jasa pelayanan yang tidak profesional, cadangan sumber daya manusia pengelola lainnya atau kesibukan pribadi para anggota organisasi.
Konsep Struktur Organisasi
Setelah mengambil langkah tersebut, segera lakukan pemetaan dan konsep struktur yang diperlukan dalam organisasi. Misalnya, penentuan ketua kelompok, sekretaris kelompok, bendahara kelompok, seksi keamanan, seksi kebersihan, seksi humas, dan seksi unit usaha.
Ketua diperlukan untuk mengendalikan semua aktivitas dan menerima laporan. Sekretaris diperlukan untuk menginventarisasi dan administrasi kelompok, bendahara diperlukan untuk mengatur keluar masuk dana yang diperoleh.
Seksi keamanan diperlukan untuk memastikan dan menjadi keamanan dan kenyamanan serta sebagai pusat informasi, seksi kebersihan diperlukan guna mengendalikan pembuangan, seksi unit usaha adalah unit yang memenuhi semua dana yang dibutuhkan organisasi.
Jika organisasi tersebut berjalan secara efektif, bisa dipastikan akan membuat nyaman semua anggota serta tentu saja adanya evaluasikinerja organisasi setiap periode tertentu. Hal ini dilakukan sebagai bahan eveluasi.

 

MATERI 11 : Kepemimpinan
A.  Teori Kepemimpinan
Teori kepemimpinan membicarakan bagaimana seorang menjadi pemimpin; atau bagaimana timbulnya seorang pemimpin. Ada beberapa teori tentang kepemimpinan, diantaranya ialah:
1.    Teori Kelebihan, teori ini beranggapan bahwa seseorang akan menjadi pemimpin apabila ia memiliki kelebihan dari para pengikutnya. Pada dasarnya kelebihan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin mencakup 3 (tiga) hal, yaitu:
a.    Kelebihan ratio: ialah kelebihan dalam menggunakan pikiran, kelebihan dalam pengetahuan tentang hakikat tujuan dari organisasi, dan kelebihan dalam memiliki pengetahuan tentang cara-cara menggerakkan organisasi, serta dalam pengambilan keputusan yang cepat dan tepat. Dengan kelebihan ratio diharapkan seorang pemimpin mampu mengatasi segala macam persoalan yang dihadapi oleh organisasi. Pimpinan merupakan tumpuan dari para pengikutnya.
b.    Kelebihan rohaniah: berarti seorang pemimpin harus mampu menunjukkan keluhuran budi pekertinya kepada para bawahan. Seorang pemimpin harus mempunyai moral yang tinggi karena pada dasarnya pemimpin merupakan panutan para pengikutnya. Segala tindakan, perbuatan, sikap dan ucapan hendaknya menjadi suri teladan bagi para pengikutnya.
c.    Kelebihan badaniah: berarti seorang pemimpinan hendaknya memiliki kesehatan badaniah yang lebih dari para pengikutnya sehingga memungkinkan untuk bertindak dengan cepat. Akan tetapi masalah kelebihan badaniah ini dapat kita ambil contoh, misalnya kepemimpinan Panglima Besar Jendral Soedirman, pada jaman revolusi. Meskipun dalam keadaan sakit, beliau mampu memimpin perang gerilya dan ia sangat disegani. Hal ini disebabkan oleh karena kewibawaannya dalam memimpin anak buahnya.

Teori Sifat
Pada dasarnya teori sifat sama dengan teori kelebihan. Teori ini menyatakan bahwa seseorang dapat menjadi pemimpin yang baik apabila memiliki sifat-sifat yang lebih daripada yang dipimpin yang dipimpin. Di samping memiliki tiga macam kelebihan (ratio, rohaniah, dan badaniah), hendaknya seorang pemimpin mempunyai sifat-sifat yang positif sehingga para pengikutnya dapat menjadi pengikut yang baik, dan memberikan dukungan kepada pemimpinnya. Sifat-sifat kepemimpinan yang umum, misalnya bersifat adil, suka melindungi, penuh percaya diri, penuh inisiatif, mempunyai daya tarik, energik, persuasif, komunikatif dan kreatif.
Di masa sekarang, di samping harus memiliki sifat-sifat seperti yang telah diuraikan di atas, pemimpin diharapkan juga mempunyai sifat mental yang siap membangun. Mukti Ali (saat masih menjabat sebagai Menteri Agama RI) menyatakan ada ciri-ciri tertentu dari mental yang siap membangun, yaitu:
1)        Suka bekerja keras
2)        Sabar menderita dan menghadapi kesulitan untuk mencapai tujuan
3)        Bersifat terbuka, suka menerima ide-ide baru karena salah satu sifat dari masyarakat ialah selalu berubah.
4)        Mau bekerja sama dengan pihak-pihak lain (perseorangan, badan-badan atau instansi-instansi) yang mempunyai ide-ide baru dan baik.
5)        Berani melakukan eksperimen. Kalau tidak berani melakukannya maka tidak akan pernah timbul ide-ide baru.
6)        Hemat. Tidak boros.
7)        Teliti dalam pekerjaan.
8)        Jujur.
9)        Bersifat mau berbakti atau mempunyai dedikasi.
10)    Suku rukun, antara lain rukun dalam hubungan antar agama. Kerukunan adalah salah satu prasyarat bagi pembangunan.

Teori Keturunan
Teori keturunan disebut juga teori pembawaan lahir. Ada juga yang menyebut teori genetis. Menurut teori keturunan, seseorang dapat menjadi pemimpin adalah karena keturunan atau warisan. Karena orangtuanya seorang pemimpin maka anaknya otomatis akan menjadi pemimpin menggantikkan orangtuanya. Hal ini berarti, seolah-olah menjadi pemimpin karena ditakdirkan. Pada zaman penjajahan Belanda, teori ini sering menjadi kenyataan. Misalnya, apabila ayahnya menjadi bupati, maka anaknya akan menjadi bupati menggantikan orangtuanya. Pada abad modern dewasa ini, teori ini hanya terdapat pada negara-negara yang berbentuk monarki (kerajaan), dimana kedudukan sebagai raja diperoleh karena warisan atau keturunan.

Teori Kharismatis
Teori kharismatis menyatakan bahwa seseorang menjadi pemimpin karena orang tersebut mempunyai kharisma (pengaruh) yang sangat besar. Kharisma itu diperoleh dari Kekuatan Yang Maha Kuasa. Dalam hal ini terdapat suatu kepercayaan bahwa orang itu adalah pancaran dari Zat Tunggal, dari Tuhan Yang Esa, sehingga dianggap mempunyai kekuatan ghaib (supranatural power). Pemimpin yang bertipe kharismatis biasanya memiliki daya tarik, kewibawaan dan pengaruh yang sangat besar. Tokoh-tokoh atau para pemimpin yang mempunyai tipe kharismatis, misalnya: Panglima Besar Jendral Sordirman, Ir. Sukarno, John F. Kennedy, Nehru, dan lain-lain.

Teori Bakat
Teori bakat disebut juga teori ekologis, yang berpendapat bahwa pemimpin itu lahir karena bakatnya. Ia menjadi pemimpin karena memang mempunyai bakat untuk menjadi pemimpin. Bakat kepemimpinan itu harus dikembangkan, misalnya dengan memberi kesempatan orang tersebut menduduki suatu jabatan.

Teori Sosial
Teori sosial beranggapan bahwa pada dasarnya setiap orang dapat menjadi pemimpin. Setiap orang mempunyai bakat untuk menjadi pemimpin asal dia diberi kesempatan. Setiap orang dapat dididik menjadi pemimpin karena masalah kepemimpinan dapat dipelajari, baik melalui pendidikan formal maupun melalui pengalaman praktek. Yang menjadi masalah adalah apakah orang yang bersangkutan mendapat kesempatan atau tidak. Banyak orang yang mempunyai potensi untuk menjadi pemimpin, tetapi kesempatan tidak pernah diberikan kepadanya. Sebaliknya, ada sementara pejabat yang sebenarnya tidak mempunyai potensi untuk menjadi pemimpin, tetapi ia mendapat kesempatan untuk memimpin. Apabila orang itu dalam menjalankan kepemimpinan tidak mau mempelajari ilmu kepemimpinan atau ilmu manajemen maka ia akan memperoleh cara-cara mempengaruhi orang lain dan bagaimana teknik-teknik kepemimpinan yang baik.

B.       Tipe-Tipe Kepemimpinan
Yang dimaksud dengan tipe kepemimpinan adalah gaya atau corak kepemimpinan yang dibawakan oleh seorang pemimpin dalam mempengaruhi para pengikutnya. Gaya seorang pemimpin dalam menjalankan kepemimpinannya dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain faktor pendidikan, faktor pengalaman, faktor usia, dan faktor karakter, tabiat atau sifat yang ada pada diri pemimpin tersebut. Orang yang ambisius untuk menguasai setiap situasi, apabila menjadi pemimpin akan bersifat otoriter. Orang yang mempunyai sifat kebapakan, apabila menjadi pemimpin akan menjalankan kepemimpinan yang bertipe paternalistik. Pemimpin yang tidak menguasai bidang tugas yang menjadi wewenangnya akan menyerahkan segala sesuatunya kepada para bawahan, sehingga gaya kepemimpinannya bersifat laisser faire.
Dari berbagai leteratur dapat ditemukan berbagai tipe kepemimpinan, anatara lain:
1)        Tipe Otokratis
Otokratis berasal dari kata otokrat, dari kata autos dan kratos. Autos berarti sendiri, dan kratos berarti kekuatan atau kekuasaan (power). Jadi kepemimpinan otokratis adalah kepemimpinan yang mendasarkan kepada suatu kekuasaan, kekuatan yang melekat pada dirinya. Hal ini berarti seseorang menjadi pemimpin karena mempunyai kekuatan atau kekuasaan (power).
Ciri-ciri kepemimpinan yang bertipe otokratis antara lain:
a.                   Mengandalkan kepada kekuatan atau kekuasaan yang melekat pada dirinya
b.                  Menganggap dirinya yang paling berkuasa (kuasa tunggal)
c.    Menganggap dirinya paling mengetahui segala macam persoalan, orang lain dianggap tidak tahu.
d.   Keputusan-keputusan yang diambil secara sepihak, tidak mengenal kompromi, sehingga ia tidak mau menerima saran dari bawahan. Ia bahkan tidak memeberi kesempatan kepada bawahan untuk memberikan saran, pendapat atau ide.
e.    Keras dalam mempertahankan prinsip.
f.     Jauh dari para bawahan.
g.    Lebih menyukai bawahan yang bersikap “yesman”, “abs” (asal bapak senang).
h.    Perintah-perintah diberikan secara paksa.
i.      Pengawasan dilakukan secara ketat agar perintah benar-benar dilaksanakan.

2)        Tipe Laisser Faire
Seperti telah diuraikan diatas, tipe laisser faire pada umumnya dijalankan oleh pemimpin yang tidak mempunyai keahlian teknis. Tipe laisser mempunya ciri-ciri antara lain:
a.    Memberikan kebebasan sepenuhnya kepada para bawahan untuk melakukan tindakan yang dianggap perlu sesuai dengan bidang tugas masing-masing.
b.    Pimpinan tidak terlibat dalam kegiatan sehingga pemimpin tidak ikut berpartisipasi aktif dalam kegiatan kelompok.
c.    Semua pekerjaan dan tanggungjawab dilimpahkan kepada bawahan.
d.   Tidak mampu mengadakan koordinasi dan pengawasan yang baik.
e.    Tidak mempunyai wibawa sehingga ia tidak ditakuti apalagi disegani oleh bawahan.
f.     Secara praktis pemimpin tidak menjalankan kepemimpinan sehingga ia hanya merupakan simbol belaka.
Berdasarkan ciri-ciri di atas, pemimpin dengan tipe laisser faire bukanlah pemimpin dalam arti sebenarnya. Seorang pemimpin dengan cara apapun diharapkan dapat menggerakkan bawahan sehingga tujuan oeganisasi dapat tercapai. Cara yang terbaik ialah mempengaruhi, bukan dengan menakut-nakuti.

3)        Tipe Paternalistik
Tipe peternalistik adalah tipe kepemimpinan yang bersifat kebapakan. Pemimpin bertindak sebagai seorang bapak yang selalu memberikan perlindungan kepada para bawahan dalam batas-batas kewajaran.
Ciri-ciri tipe paternalistik antara lain:
a.         Pemimpin bertidak sebagai seorang bapak.
b.         Memperlakukan bawahan sebagai orang yang belum dewasa.
c.    Selalu memberikan perlindungan kepada para bawahan yang kadang-kadang terlalu berlebihan.
d.   Keputusan ada ditangan pemimpin, bukan karena pemimpin ingin bertindak secara otoriter, tetapi karena keinginan dari pihak pimpinan yang ingin selalu memberi kemudahan kepada bawahan. Oleh karena itu para bawahan jarang-jarang bahkan sama sekali tidak memberikan saran kepada pimpinan. Pihak pimpinanpun jarang meminta saran dari bawahan.
e.    Karena keputusan ada ditangan pimpinan, maka pimpinan menganggap dirinya yang paling mengetahui segala macam persoalan.

4)        Tipe Militeristis
Tipe Militeristis tidak hanya terdapat dikalangan militer saja. Tetapi banyak pemimpin instansi (non-militer) yang menerapkan kepemimpinan dengan tipe militeristis. Tipe militeristis mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a.    Dalam mengadakan komunikasi, lebih banyak mempergunakan saluran formal.
b.    Dalam menggerakkan bawahan lebih banyak menggunakan sistem komando/perintah, baik perintah itu secara lisan maupun secara tertulis.
c.    Segala sesuatu bersifat formal
d.   Disiplin yang tinggi, kadang-kadang bersifat kaku.
e.    Karena segala sesuatunya melalui perintah, maka komunikasi hanya berlangsung satu arah sehingga bawahan tidak diberi kesmpatan untuk mengemukakan pendapat.
f.     Pimpinan menghendaki bawahan tidak diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapat.
g.    Pimpinan menghendaki bawahan patuh terhadap semua perintah yang diberikannya.

5)        Tipe Demokratis
Tipe demokratis jauh berbeda dengan tipe-tipe yang telah kita bicarakan. Pemimpin yang bertipe demokratis selalu berada di tengah-tengah para bawahan sehingga ia terlibat dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan organisasi.
Kepemimpinan dengan tipe demokratis mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a.    Berpartisipasi aktif dalam kegiatan organisasi.
b.    Bersifat terbuka.
c.    Bawahan diberi kesempatan untuk memberikan saran-saran, ide-ide baru
d.   Dalam mengambil keputusan lebih mengutamakan musyawarah untuk mufakat, daripada keputusan yang bersifat sepihak. Apabila musyawarah untuk mufakat tidak berhasil maka ditempuh dengan jalan lain yang sesuai dengan alam demokratis, misalnya secara votimg.
e.    Menghargai potensi setiap individu.
f.     Berlangsung dengan mantap. Kemantapan kepemimpinan demokratis dapat dilihat dalam hal-hal sebagai berikut:
•           Unit-unit organisasi berjalan lancar, melakukan kegiatan sesuai dengan fungsi masing-masing.
•           Otoritas didelegasikan kepada para bawahan.
•           Bawahan merasa senang, aman, tentram.
•           Semangat kerja bawahan tinggi, baik ada pimpinan maupun tidak ada pimpinan.
g.    Pimpinan sering turba (turun ke bawah) melakukan pembinaan dan penyuluhan, yang sekaligus melakukan pengamatan terhadap hasil yang telah dicapai, serta kelemahan-kelemahan atau kekurangan dan kesulitan yang dihadapi para bawahan.

6)        Tipe Open Leadership
Sebenarnya tipe open leadership hampir sama dengan tipe demokratis. Perbedaannya hanya terletak dalam hal pengambilan keputusan. Tipe demokratis lebih mengutamakan musyawarah untuk mufakat sehingga musyawarah dijadikan dasar keputusan. Hasil musyawarah menjadi keputusan pimpinan. Dalam hal ini berbeda dengan tipe open leadership. Pimpinan memang memberikan kesempatan kepada para bawahan untuk memeberikan saran, tetapi keputusan tetap ada ditangan pimpinan.

C.      Syarat-Syarat Kepemimpinan
Syarat-syarat kepemimpinan dibedakan menjadi 3 (tiga) macam, yaitu: (1) persyaratan kepemimpinan pada umumnya, (2) persyaratan kepemimpinan khusus yang berhubungan dengan ciri khas masyarakat atau negara, (3) persyaratan kepemimpinan khusus yang berhubungan dengan jenis kegiatan atau pekerjaan.
1)      Persyaratan Kepemimpinan Pada Umumnya
Yang dimaksud dengan persyaratan kepemimpinan pada umumnya adalah persyaratan kepemimpinan yang berlaku bagi pemimpin apa saja. Persyaratan kepemimpinan umum meliputi hal-hal sebagai berikut:
•           Sehat jasmaniah maupun rohaniah (fisik maupun mental)
•           Bertanggungjawab dan obyektif dalam sikap, tindakan dan perbuatan. Adil terhadap yang dipimpin.
•           Jujur, yang meliputi :
a.       Jujur terhadap diri sendiri,
b.      Jujur terhadap atasan,
c.       Jujur terhadap bawahan, dan
d.      Jujur terhadap sesama pegawai.
•           Suka melindungi,
•           Semangat untuk mencapai tujuan,
•           Cerdas
•           Percaya pada diri sendiri,
•           Mudah dan cepat dalam mengambil keputusan,
•           Memiliki kecakapan teknis,
•           Mempunyai daya tarik,
•           Berwibawa.
2)      Persyaratan Khusus dalam Hubungannya dengan Ciri-ciri Khusus Masyarakat
Ciri-ciri khusus masyarakat Indonesia adalah yang berhubungan dengan dasar negara, yaitu Pancasila. Hal ini berarti kepemimpinan Indonesia harus berlandaskan kepada falsafah Pancasila. Kepemimpinan yang berlandaskan falsafah Pancasila. Kepemimpinan yang berlandaskan falsafah Pancasila berisikan azas-azas sebagai berikut:
•           Ketuhanan Yang Maha Esa, yaitu kesadaran akan beragama dan beriman yang teguh.
•           Hing Ngarsa Sung Tulada, Hing Madya Mangun Karsa, Tutwuri Handayani, yang artinya:
o    Hing Ngarsa (di depan), Tulada (teladan, contoh), yang berarti seorang pemimpin di tengah-tengah masyarakat harus mampu memberi contoh, memberi teladan yang baik kepada para bawahan/pengikut.
o    Hing Madya (di tengah-tengah), Mangun Karsa (membangun semangat). Seorang pemimpin harus senantiasa ada ditengah-tengah para pengikutnya dan mampu membangkitkan semangat para bawahan.
o    Tut Wuri (dari belakang), Handayani (memberikan dorongan, memberikan pengaruh), yang berarti seorang pemimpin dari belakang ia harus mampu memberikan dorongan, memberikan pengaruh yang baik kepada para bawahan.
Falsafah tersebut memberikan petunjuk bahwa seorang pemimpin tidak harus senantiasa ada di belakang terus-menerus, tetapi juga di depan, dan ada ditengah-tengah para bawahan/masyarakat. Dengan cara demikian maka pemimpin benar-benar menyatu dengan para bawahan/pengikut dalam keadaan atau situasi yang bagaimanapun.
•           Waspada Purbawisesa. Artinya: waspada (berawas-awas dan berjaga, tidak lengah), dan Purbawisesa (kekuasaan sepenuh-penuhnya). Jadi seorang pemimpin dalam menjalankan kekuasaannya harus selalu waspada, hati-hati, mau dan mampu mengoreksi diri sendiri dan orang lain (bawahan).
•           Ambeg Parameta. Mendahulukan mana yang dianggap lebih penting. Hal ini berarti bahwa seorang pemimpin harus pandai memilih dan menetapkan berbagai macam masalah, dan dari sekian masalah itu mana yang harus didahulukan untuk mendapat penyelesaian.
•           Prasaja. Artinya sederhana. Hal ini berarti bahwa seorang pemimpin harus bersifat sederhana, tidak berlebihan-lebihan, sederhana dalam tingkah laku.
•           Satya, yang artinya setia atau loyal. Hal ini berarti bahwa seorang pemimpin harus loyal kepada bawahan, pimpinan dengan pimpinan, atasan yang bersangkutan, dan kepada organisasi yang dipimpinnya. Loyal kepada organisasi yang dipimpin berarti harus berusaha untuk mengembangkan, memajukan, mengamankan dari segala macam rongrongan yang datang dari segenap penjuru, baik yang dilakukan perorangan maupun kelompok
•           Hemat, berarti tidak boros. Pemimpin harus mempergunakan dana yang tersedia seefesien dan seefektif mungkin. Ia harus mampu membatasi penggunaan dana sesuai dengan kebutuhan yang benar-benar penting.
•           Terbuka, yang berarti pemimpin harus bersedia menerima saran atau kritik yang membangun dari semua pihak. Ia juga harus berani mempertanggungjawabkan semua tindakannya secara terbuka.
•           Penerusan, yang berarti seorang pemimpin harus mempunyai kesadaraan, kerelaan, dan kemauan untuk menyerahkan tugas dan tanggungjawab kepasa generasi penerusan untuk melanjutkan dan mewujudkan cita-cita yang ditentukan. Untuk itu seorang pemimpin harus mampu menyiapkan dan menciptakan kader-kader penerus berkualitas dan dapat diandalkan.

3)      Persyaratan Khusus yang Berhubungan dengan Jenis Kegiatan atau Pekerjaan
Menurut jenis kegiatan atau pekerjaan yang menjadi tugas dan tanggung jawab pemimpin, kepemimpinan dapat dibedakan menjadi kepemimpinan lini (line leadership), dan kepemimpinan staf (staf leadership). Persyaratan bagi kepemimpinan lini berbeda dengan persyaratan kepemimpinan staf karena fungsi lini berbeda dengan fungsi staf. Meskipun demikian ada beberapa persamaan persyaratan yang harus dimiliki oleh kedua jenis pimpinan itu, anatara lain:
•           Bersifat ramah tamah, dalam tutur kata, sikap dan perbuatan.
•           Mempunyai intelegensi yang tinggi.
•           Sabar, ulet dan tekun dalam menghadapi masalah.
•           Cepat dan tepat dalam mengambil keputusan.
•           Jujur.
•           Adil, dan
•           Berwibawa.
Persyaratan khusus bagi kepemimpinan staf akan di jelaskan dalam uraian tentang kepemimpinan staf.

D.      Teknik Kepemimpinan
Yang dimaksud dengan teknik kepemimpinan ialah dengan cara bagaimana seorang pemimpin menjalankan fungsi kepemimpinannya.
Teknik kepemimpinan dapat dibedakan menjadi 2 (dua) macam, yaitu teknik kepemimpinan secara umum, dan teknik kepemimpinan khusus. Teknik kepemimpinan secara umum adalah teknik kepemimpinan yang berlaku bagi setiap pemimpin, sedang teknik kepemimpinan khusus adalah teknik kepemimpinan yang dijalankan oleh seorang pemimpin yang memimpin suatu bidang tertentu. Teknik kepemimpinan khusus akan dibicarakan lebih lanjut dalam uraian tentang kepemimpinan staf.
Teknik kepemimpinan pada umumnya terdiri dari: (1) teknik kepengikutan, (2) teknik human relationship, (3) teknik pemberian teladan, semangat dan dorongan.
1)        Teknik Kepengikutan
Teknik kepengikutan adalah teknik untuk membuat orang-orang suka mengikuti apa yang menjadi kehendak si pemimpin. Ada beberapa sebab mengapa seseorang mau menjadi pengikut, yaitu:
•           Kepengikutan karena peraturan/hukum yang berlaku.
•           Kepengikutan karena agama.
•           Kepengikutan karena tradisi atau naluri, dan
•           Kepengikutan karena rasio.
Teknik kepengikutan dapat dijalankan dengan penerangan dan propaganda.
a.         Teknik Penerangan ialah dengan cara memberikan fakta-fakta yang objektif. Fakta disebut objektif bila fakta-fakta itu dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, jelas sumbernya, dan tidak bermaksud mengelabuhi para pengikut untuk menutupi kesalahan pemimpin. Supaya fakta itu jelas dan berguna maka fakta-fakta itu harus disampaikan tepat pada waktunya dan disajikan dalam bentuk yang dapat dengan mudah dan cepat dimengerti. Penyajian fakta-fakta yang demikian diharapkan akan dapat menimbulkan kesadaraan dan kepuasaan di kalangan para bawahan sehingga mereka kemudian dengan sukarela mengikuti.
b.        Teknik Propaganda. Teknik propaganda berbeda dengan teknik penerangan. Dalam teknik penerangan pemimpin berusaha untuk memberika pengertian dan kesadaraan kepada para bawahan sehingga mereka menjadi pengikut berdasarkan atas kesadaraan.
Dalam propaganda, seseorang menjadi pengikut karena merasa terpaksa dan takut. Propaganda merupakan suatu cara mengubah pikiran orang lain supaya menjadi pengikut dengan cara-cara yang bersifat negatif, misalnya dengan intimidasi, ancaman, menakut-nakuti, dan dengan paksaan.
2)      Teknik Human Relationship
Human relationship merupakan hubungan kemanusiaan yang bertujuan untuk mendapatkan kepuasan, baik kepuasan jasmaniah. Karena human relations bertujuan untuk mendapatkan kepuasan, teknik human relations dapat dilakukan dengan memberikan berbagai macam kebutuhan kepada para bawahan, baik kepuasan psikologis, maupun kepuasan jasmaniah.
3)      Teknik Memberi Teladan, Semangat dan Dorongan
Dengan teknik ini seorang pemimpin menempatkan diri sebagai pemberi teladan, pemberi semangat, dan sebagai pemberi dorongan. Cara ini dapat dilaksanakan apabila pemimpin berpegangan kepada filsafat: Hing ngarsa sung tulada, hing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Dengan cara demikian diharapkan dapat memberikan pengertian dan kesadaraan kepada para bawahan sehingga mereka mau dan suka mengikuti apa yang menjadi kehendak pemimpin.

 

MATERI 12 : mengelola kinerja dan mutu
CARA MUDAH MEMAHAMI KEUANGAN DAN AKUNTANSI
Laporan Keuangan bukanlah satu-satunya hasil produksi bidang akuntansi, dia dapat dipakai secara luas untuk pengambilan keputusan. Sebagai bahasa bisnis, akuntansi adalah disiplin yang mau tidak mau harus dipahami oleh para pelaku bisnis yang selalu berkecimpung dengan tumbukan laporan keuangan . Memahami disiplin ilmu ini akan bermanfaat dalam mengoptimalkan penggunaan informasi keuangan untuk pengambilan keputusan.
Buku ini memaparkan mulai dari apa itu akuntansi, bagaimana proses pembuatan laporan keuangan, kerangka konsep akuntansi, penerapannya di Indonesia, sampai pada bagian-bagian utama laporan keuangan seperti tentang kas dan investasi jangka pendek, piutang, persediaan, aktiva tetap, capital budgeting, perpajakan, bagaimana audit dilaksanakan, analisis laporan keuangan, akuntansi biaya dan penganggaran. Memahami keseluruhan isi buku ini cukup menjadi bekal untuk memberikan gambaran tentang apa itu akuntansi sesungguhnya. Tentu saja untuk melakukan pendalaman akan dibutuhkan buku-buku yang lain dan saran serta konsultasi ahli.
Di bagian pendahuluan, pengarang buku ini cukup memberikan gambaran tentang isi laporan keuangan, apa fungsi item laporan dan bagaimana memahami isi laporan keuangan. Dengan memberikan contoh-contoh yang sederhana membuat pembaca akan mudah mengikuti tuntunan penulis, apalagi penulis juga mencantumkan istilah-istilah yang biasa digunakan dalam ilmu akuntansi.
Tidak hanya menjelaskan tentang produk akhirnya yaitu laporan keuangan, buku ini juga menyajikan urutan prosesnya, layaknya buku-buku pengantar akuntansi dasar, buku ini juga menjelaskan mengenai istilah-istilah yang banyak digunakan dalam akuntansi seperti jurnal pengeluaran kas, jurnal penerimaan kas, jurnal penjualan, jurnal pembelian, jurnal umum dan lain-lain pada penjelasan tentang proses awal akuntansi yaitu mencatat jurnal. Bagaimana jurnal-jurnal dikelompokkan dan dirangkum dalam neraca percobaan sampai menjadi sebuah laporan keuangan yang utuh. Menjelaskan bagaimana suatu akun mengalir ke laporan laba/rugi atau ke neraca.
Buku ini juga menjelaskan kerangka konsep akuntansi, tidak hanya menjelaskan bagaimana prosesnya terjadi tetapi juga memberikan gambaran kerangka berpikir atau konsep mengapa suatu peristiwa disajikan sedemikian rupa seperti yang kita temui dalam laporan akuntansi. Menjelaskan bahwa akuntansi merupakan konsensus bersama tentang bagaimana sustu informasi keuangan itu disajikan, dengan demikian memberikan pemahaman bahwa penyusunannya tidak bisa dibuat semaunya sesuai logika pencatat keuangan tetapi sudah menjadi bahasa umum yang dipakai dalam dunia keuangan sebagaimana bahasa pemograman untuk para pelaku teknologi informasi. Memaparkan informasi keuangan dengan kerangka yang salah akan dipahami sebagai sesuatu yang salah atau akan disalahmengertikan.
Dalam pengelolaan keuangan ada dua konsep yang harus dipertimbangkan yaitu Efektivitas Biaya dan Materialitas dengan kedua konsep ini kita akan dapat menuilai apakah sebuah informasi cukup bernilai atau tidak. Suatu informasi dianggap bernilai jika:
dapat dimengerti oleh pengguna
menggambarkan kejadian di masa yang lalu
dapat dipakai untuk memprediksi masa depan
diperoleh pada saat yang tepat
Berbeda jenis perusahaannya, baik alam bentuk badan hukumnya, skala bisnisnya, bidang kerjanya akan menentukan tingkat kerumitan pencatatan akuntansinya, karena itu buku ini juga menjelaskan mengenai bagaimana laporan keuangan perusahaan manufaktur dengan laporan perusahaan dagang disusun.
Penjelasan mengenai akun-akun yang muncul di laporan keuangan cukup akan membantu pembaca memahami laporan keuangan secara keseluruhan terutama tambahan penjelasan mengenai kegunaan analisis laporan keuangan serta kendala-kendala yang mungkin dihadapi dalam membaca sebuah laporan keuangan. Tiga hal utama yang menjadikan buku ini cukup bermanfaat adalah karena buku ini akan memudahkan bagi pengambil keputusan, cocok untuk semua jenis badan usaha di Indonesia, dan juga dilengkapi dengan peraturan perpajakan yang berlaku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code class="" title="" data-url=""> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> <pre class="" title="" data-url=""> <span class="" title="" data-url="">